fbpx

100 Rombongan Bank Mandiri Seluruh Provinsi Jambi Menikmati Udang Selingkuh dan Hamparan Kebuh Teh

Kerinci memiliki segala yang dibutuhkan untuk menyegarkan jiwa dan raga. Hamparan kebun teh terluas di dunia, udara yang sejuk di kaki Gunung Kerinci, pemandangan syurgawi Gunung Tujuh dan suasana yang sunyi dengan sesekali diiringi kicauan burung. Tak heran bila Kerinci disebut syurganya dunia oleh beberapa orang yang berkunjung ke sana.

Kali ini, 100 pemimpin Bank Mandiri area Jambi menjadi saksi berikutnya, menikmati hamparan kebun teh, siluet Gunung Tujuh dari kejauhan dan sarapan eksotis di atas rooftop.

Rombongan bertolak pada hari Jumat sore dengan asal yang berbeda-beda. Jumat malam, rombongan terlebih dahulu menjajal daging rusa di Muara Bulian sekaligus sholat maghrib berjamaah. Tengah malam sampai di Bangko bergabung dengan rekan-rekan lain yang berasal dari Bangko, Sarolangun, Muara Bungo dan juga Tebo.

Jam 2 malam coffe break di muara hemat sembari aklimatisasi sebelum menuju ketinggian. Subuh sholat subuh di sungai penuh dan menikmati sajian matahari terbit di Family Resort dgn makanan dan minuman panas. Dilanjutkan dengan capacity building. Lanjut barbeque, api unggun dan malam kebersamaan.

Di hari sabtu, rombongan telah merancang beberapa agenda kegiatan internal dan tentu berbagai sajian dari kami pun siap memanjakan. Sejumlah kegiatan seru sudah menunggu.

Kesan terbaik kami suguhkan di jam sarapan, di mana rombongan dipersilahkan untuk mencicipi pengisi perut pagi di atas roof top sembari menikmati hamparan kebun teh terluas di dunia dalam satu hamparan dengan berpagarkan Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh.

Menikmati Suguhan Raja

Salah satu yang membuat suasana menjadi ramai adalah ketika masuk waktu coffe break di mana rombongan menikmati lemang kantung semar yg merupakan panganan terbatas yang dulunya hanya disuguhkan pada acara adat maupun saat tamu raja datang. Konon katanya, kantung semar merupakan tanaman yang dilindungi dan senantiasa dijaga kelestariannya.

Berkunjung ke Danau Aroma Pecco dan Pesona Bukit Cinta

Momen yang sulit terlupakan saat rombongan dengan wajah-wajah riangnya menikmati makan siang di Aroma Pecco sambil menikmati lantunan berbagai burung bernyanyi dan beratraksi di danau Aroma Pecco dan dilanjutkan ke Pesona Bukit Cinta, lalu menuju perkampungan homestay kerinci desa Mekarsari Kayu Aro kerinci untuk melakukan rakor di meeting room transparan sexy.

Mampir ke Danau Kerinci

Ke Kerinci tak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan diri mampir ke Danau Kerinci. Tempat wisata paling terkenal sebelum nama-nama lain bermunculan di sini. Di Danau Kerinci, rombongan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dan selfie dengan smartphone masing-masing. Beberapa juga tampak asyik membuat video sebagai kenang-kenangan.

Perjalanan belum usai. Rombongan pun tampak masih penuh energi untuk menuntaskan misi. Mereka pun melanjutkan wisata ke Muara Hemat. Untuk memberikan edukasi dan juga sosialisasi, pemandu memberikan penjelasan secara rinci tentang tempat ataupun properti yang ada di seluruh titik yang dikunjungi.

Menikmati Udang Selingkuh

Suasana kembali riuh ketika pemandu memperkenalkan suguhan yang ada di depan rombongan. Yap, ketika mendengar namanya udang selingkuh, sontak mereka bersorak tertawa dan beberapa bersenda gurau menyebutkan nama rekannya.

Disebut udang selingkuh karena emak udang bapak kepiting, sehingga hasilnya adalah udang yang berbadan layaknya udang tetapi bercapit kepiting yg merupakan endemik de danau kerinci yang kami yakini hanya bisa dijumpai di sini dan Danau Sentani Jayapura.

Tak melulu tentang makanan dan tempat-tempat bersejarah, tapi juga terdapat kisah yang nantinya jadi oleh-oleh cerita di masing-masing peserta. Muara hemat bercerita tentang suku serampas yang berkerajaan tinggi di Pulaunsangkar Kerinci, Pulau Raman Merangin, Lubuk Mentilin Merangin. Yang merupakan bagian atau berbatasan dengan hilir Kabupaten Kerinci.

Waktu berpisah pun tiba, di mana tim Bangko kembali ke asalnya, kemudian tim Bungo dan Tebo memisahkan diri untuk kemudian makan malam di Muara Bulian di Soto Jakarta. Lalu yang tiba di Jambi melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Pengalaman berbeda kami coba suguhkan, di mana moda tranportasi Hiave yang sebenarnya memiliki kapasitas 16 orang dimodifikasi menjadi model sleeping car yang hanya dapat menampung 10 orang. Walhasil, kendaraan tidak hanya terasa lega tapi juga sangat nyaman. Pelancong dapat beristirahat dengan optimal dan ketika bangun, mereka akan disambut matahari terbenam yang indah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *